Handep Hapakat sebagai Praxis Ekologi Integral: Analisis Ekoteologis Kearifan Lokal Dayak dalam Merespons Krisis Lingkungan

Authors

  • Yustinus Dwi Andriyanto STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

DOI:

https://doi.org/10.58374/sepakat.v10i2.465

Keywords:

Handep Hapakat, Ekologi Integral, Ekoteologi, Dayak, Laudato Si', Ekopastoral

Abstract

Krisis ekologis di Kalimantan Tengah ditandai oleh deforestasi, ekspansi perkebunan monokultur, serta penambangan ilegal yang berdampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat Dayak. Situasi ini menuntut respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga teologis dan kultural. Artikel ini menawarkan pembacaan baru terhadap Handep Hapakat prinsip hidup komunal masyarakat Dayak sebagai praksis ekologi integral dan model ekopastoral kontekstual dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya ensiklik Laudato Si’. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi hermeneutika teologis-kultural melalui studi kepustakaan terhadap literatur budaya Dayak, dokumen Gereja, dan kajian ekoteologi kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa Handep Hapakat tidak sekadar merupakan konstruksi sosial, melainkan praksis spiritual-ekologis yang menegaskan relasi harmonis antara manusia, komunitas, alam, dan Sang Pencipta. Nilai kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan musyawarah yang terkandung di dalamnya sejalan dengan visi ekologi integral yang menghubungkan dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual secara utuh. Artikel ini menegaskan bahwa integrasi Handep Hapakat dalam karya pastoral Gereja memiliki potensi transformatif dalam membangun kesadaran ekologis, memperkuat inkulturasi iman, serta mendorong keterlibatan komunitas dalam merawat rumah bersama secara berkelanjutan.

References

Bevans, S. B. (2016). Models of contextual theology. Orbis Books.

Conradie, E. M. (2021). Christianity and ecological theology: Resources for further research. Stellenbosch: SUN Press.

Bergoglio, J. M. (2021). Let us dream: The path to a better future. London: Simon & Schuster.

Dewi, I. N., & Widodo, S. (2021). Kearifan lokal masyarakat Dayak dalam menjaga keseimbangan ekologi hutan Kalimantan. Jurnal Antropologi Indonesia, 42(2), 115–130.

Deane-Drummond, C. (2022). Laudato Si’ and the ecological conversion of the Church. London: Bloomsbury.

Francis. (2020). Laudato Si’: On care for our common home (Updated reflection edition). Vatican City: Libreria Editrice Vaticana.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method. Continuum.

Haba, J. (2022). Etika komunal masyarakat adat Dayak dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 24(2), 157–172.

Haryanto, T. (2020). Solidaritas komunal dan etika lingkungan masyarakat adat. Jurnal Antropologi Sosial, 12(1), 33–48.

IPBES. (2022). Assessment report on biodiversity and ecosystem services. Bonn: IPBES Secretariat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2023). Status lingkungan hidup Indonesia 2023. Jakarta: KLHK.

`Messias, T. (2024). From ecotheology to ecospirituality in Laudato Si’: Ecological spirituality beyond Christian religion. Religions, 15(1), 68.

Riwut, N., & Utomo, B. S. (2020). Nilai-nilai budaya Dayak sebagai basis etika lingkungan hidup. Jurnal Masyarakat & Budaya, 22(3), 341–356.

Ricoeur, P. (1981). Hermeneutics and the human sciences. Cambridge University Press.

Walhi Kalimantan Tengah. (2022). Laporan kondisi lingkungan hidup Kalimantan Tengah. Palangka Raya: WALHI Kalteng.

Siregar, R. (2022). Kosmologi masyarakat adat dan etika lingkungan hidup di Kalimantan. Jurnal Antropologi Indonesia, 43(1), 55–70.

Setyawan, B., & Haba, J. (2023). Kearifan lokal masyarakat adat dan keadilan ekologis: Perspektif keberlanjutan dan antargenerasi. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 25(2), 189–205.

Downloads

Published

2024-09-30

How to Cite

Andriyanto, Y. D. (2024). Handep Hapakat sebagai Praxis Ekologi Integral: Analisis Ekoteologis Kearifan Lokal Dayak dalam Merespons Krisis Lingkungan. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik, 10(2), 69–84. https://doi.org/10.58374/sepakat.v10i2.465